Home / Pacitan

Selasa, 23 April 2019 - 13:52 WIB

Sistem Sainte Laguë PERTARUHKAN PEMILU 2019

Oleh  :Imron prawito, S.Pd. MM

*) Akademisi tinggal di Pacitan 

 

PEMILIHAN umum tahun 2019 merupakan sejarah baru bagi bangsa Indonesia dengan melaksanakan Pemilihan Presiden dan wakil Presiden secara serentak dengan Pemilihan Lesgilatif dan Dewan Perwakilan Daerah, Bangsa Indonesia yang besar dan majemuk dalam demokrasi dewasa ini memganut sistem sainte Lague,akan kah sistem yang di pakai di pemilu 2019 ini dan gabungan lima surat suara dalam satu waktu pesta demokrasi di laksanakan ulang dalam pemilu pemilu mendatang.

Dalam teorinya dengan di tambahnya jumlah Tempat pemungutan suara (TPS) tiga kali lipat maka proses pemilihan dan penghitungan akan lebih cepat, KPU sudah mengkaji dan menelaah bagaimana dipemilu saat ini cara menyiasati waktu agar tidak terjadi proses yang begitu lama .

Salah satu tantangan adalah dikarenakan pemilu kali ini ada lima kartu surat suara maka batasan DPT (Daftar pemilih tetap ) yang di pemilu sebelumnya dua kali lipat jumlah DPT di setiap TPS maka dalam pemilu 2019 ini batasan setiap TPS separonya yakni sekitar 300 pemilih.

Namun prakteknya proses pungut hitung dengan durasi yang cukup lama masih terjadi di berbagi TPS yang mengakibatkan para petugas KPPS kelelahan meskipun sudah adanya Pembatasan dari setiap TPS sebanyak 300 jiwa pilih , selain lima surat suara Tingkat kehadiran mulai sedikit naik karena TPS nya dekat dengan domisili pemilih dan itu bentuk kemajuan sistem demokrasi kita semakin bamyak nya TPS berpengaruh meningkatkan jumlah kehadiran.

Sejarah mencatat dalam pemilu 2019 ini saya Sebagai pelaku sejarah bahwa pemilihan legislatif, sesuai pasal 415 ayat 2 undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 mengunakan sistem Sainte Laguë suara partai akan dibagi dengan pembagi suara bilangan pembagi 1, 3, 5,7 dan seterusnya serta adanya surat suara yang hanya menampilkan nomor urut dan nama calon legislatif disetiap partai politik memberikan efek berbeda untuk masyarakat

” Dari sisi desain surat suara tidak sedikit dari masyarakat pedesaan yang usia di atas 60an merasa kebingungan untuk memilih wakil mereka, Letak dimana partai dan calegnya yang tidak bisa mudah ditebak sangat memungkinkan mereka salah pilih dalam menentukan pilihannya, Akhirnya banyak yang diuntungkan karena letak yang strategis dan mudah dicoblos,itulah fakta yang terjadi.

Sistem pembagi kursi partai yang seperti itu akan menguntungkan partai besar, partai yang sangat familiar di telinga masyarakat. Sistem ini akan sedikit mengurangi money politik, mereka yang memakai money politik secara membabi buta belum tentu tepat sasaran jika diberikan kepada orang tua karena sampai di TPS tidak tahu letak caleg yang akan dicoblosnya. Dan disisi lain akan memberikan peluang besar bagi public figur.

Ketokohan itu akan mendapatkan ruang yang cukup besar untuk menduduki kursi legislatif. Wajah wajah baru akan melenggang dikursi legislatif karena mereka berangkat dari tokoh umat, tokoh yang dekat kaum muda maupun tokoh masyarakat yang terbiasa terjun langsung bermasyarakat dan menjadi tumpuan keluh kesah mereka. Tokoh tokoh muda akan memimpin karena mereka yang sangat dekat dekat kaum milenial.

Para pemain lama akan tergeser pelan tapi pasti jika mereka tidak berupaya mendekatkan dirinya dengan konstituennya. Uang bukan segalanya untuk saat ini namun berjabat tangan dan mendengarkan aspirasi mereka itu adalah kunci. Semoga dengan proses yang sudah kita lalui bersama ini bisa mendudukkan wakil rakyat yang visioner, progressif dan merakyat sehingga mampu memberikan dampak positif bagi pembangunan masyarakat 5 tahun ke depan.

Berharap terpilih nya pemimpim seimbang dengan biaya pemilu yang besar ,Akan majunya Pembangunan tentang pendidikan, ekonomi dan kesehatan harus menjadi konsentrasi utama ke depan. Serta adanya pendidikan politik yang baik akan memberikan efek jera yang hanya mengandalkan jual beli suara,itulah catatan yang saya tuliskan dalam lembaran elektronik ini, agar menjadi catatan sejarah anak negeri bahwa pemilu kali ini 2019 adalah sangat Kelam. (*)

Berita ini telah dibaca 153 kali

Share :

Baca Juga

KLB Hepatitis A di Pacitan. Khofifah : Akan Kita Bantu Air Bersih dan Bangun MCK
Hiburan Ditengah Musibah di Pacitan Akhirnya Dibatalkan
Penderita Hepatitis A di Pacitan Capai 701 Orang
12 Jabatan Kades di Kecamatan Ngadirojo Diisi Pejabat Sementara
251 Penerima Dana Non Tunai Absen Saat Pembagian
Waspadai Perubahan Suhu Dingin Saat ini
Banyak Jabatan Pemkab Pacitan Kosong, Akademisi : Bupati Harus Tegas
Pacitan Butuh Bupati dari Pemuka Agama