Kediri /  -

Tak Terima Cara Eksekusi Kendaraan, Kantor ACC Kediri Didemo

September 14th, 2017 | Posted in Kediri | |
2017-10-22 22:52

 KEDIRI, (beritajurnal.com) – Merasa cara yang dilakukan salah satu lembaga pembiayaan kebablasan, membuat  puluhan orang tidak terima. Setidaknya., Seperti dilakukan puluhan orang dari Lembaga Perlindungan Kosumen Republik Indonesia (LPK-RI) mendatangi Kantor pembiayaan Astra Credit Companies (ACC) di Jalan S Parman No 73 Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Mereka berunjuk rasa menuntut pelepasan sejumlah kendaraan bermotor yang dijabel alias dieksekusi akibat tunggakan pembayaran kredit.

Massa yang datang dari Kabupaten Tulungagung, Blitar, dan Kediri mengendarai beberapa unit mobil. Mereka lansung mengepung kantor ACC yang berada di pinggir jalan. Massa juga membawa beberapa poster berisi tuntutan dan atribut LPK-RI.

Diantaranya “LPK-RI Meminta ACC Untuk Tidak Sewenang-Wenang Terhadap Konsumen. LPK-RI Menolak Sikap Arogan Ayub Galant Sahputro. Bermediasi dengan Nasabah. LPK-RI Menolak Aksi Premanisme Dalam Penarikan Kendaraan” dan lain-lain sebagainya.

Dalam orasinya, Erwin Silitonga, selaku Divisi Finance LPK-RI meminta, ACC menghentikan segala praktek premanisme terhadap masyarakat dengan cara melakukan penjabelan kendaraan di jalan. Sebab, sudah ada Peraturan Kapolri nomor 8 tahun 2011 yang melarangan eksekusi jaminan fidusia oleh debt collektor di jalan.

“Bagaimana hak-hak konsumen jangan diinjak injak. Ini konsumen masih membayar. Konsumen baru telat mengangsur 1-2 bulan kami rasa masih wajaer, selama masih bisa ditagih. Tetapi pihak lembaga pembiayaan menggunakan pihak ketiga yang berbadan hukum PT. Katanya eksternal mengaku audit dari Jakarta dan Surabaya membawa nasabah ke kantor. Setelah itu ditipu muslihat. Kuncinya diambil dan kendaraanya disimpan digudang,” ungkap Erwin, Kamis (14/9/2017) siang.

Berdasarkan data LPK-RI, banyak kejadian dialami masyarakat. Empat di antaranya kini telah diperjuangkan. Salah satunya adalah ibu Karyati asal Blitar. Sewaktu berjualan menggunakan mobilnya dicegat oleh 10 orang dari eksternal di wilayah Gandusari, Blitar.

Dengan alasan nunggak angsuran dua bulan, Karyati dibawa bersama mobilnya ke Kantor ACC. Setelah itu, mobil dijabel. “Ini sangat ironis, ibu Karyati sedang membawa anak kecil. Setelah mobilnya dijabel, dia harus pulang naik angkutan. Cara-cara seperti inilah yang kami protes,” tegasnya.

Massa yang mengenakan pakaian serba hitam ini menuding ada oknum ACC yang menyalahgunakan wewenangnya. Oknum tersebut memberikan kebijakan kepada pihak eksternal untuk melakukan tindakan premanisme. Untuk itu, mereka meminta pimpinan perusahaan untuk bertanggung jawab dan melepaskan kembali kendaraan-kendaraan yang sudah dieksekusi.

Setelah beberapa saat berorasi, perwakilan massa akhirnya diizinkan masuk menemui managemen ACC. Mereka bermediasi dengan Ayub sebagai pemimpin kantor. Tetapi media yang ditengani pihak kepolisian itu tidak menghasilkan keputusan, alias deadlock. Akhirnya massa keluar ruangan dan mengancam akan menempuh jalur hukum.

Setelah perwakilan keluar ruang mediasi, massa justru bergolak. Mereka kesal karena ACC tidak memenuhi tuntutan mereka. Massa sempat berupaya menduduki kantor, tetapi dihalau aparat kepolisian yang berjaga. Massa akhirnya meninggalkan lokasi dan mengancam akan lapor polisi serta menggelar aksi serupa dengan jumlah yang lebih banyak.

Terkait tuntutan massa, pemimpin Kantor ACC Kediri belum bisa dikonfirmasi. Sewaktu hendak dimintai keterangan, pihak keamanan kantor mengaku, penanggung jawab kantor sedang beristirahat usai menemui massa. (brj)

Suka Artikel ini, Bagikan!
  • Twitter
  • Facebook

Komentar

©2015 Kompoz is version 4.0 Powered by Wordpress beautified by Dewaz. All Rights Reserved.