Home / Politik

Kamis, 14 Maret 2019 - 08:53 WIB

Tanggung Jawab Besar Dibalik Suksesi Politik Nasional, Oleh: Iwit Widhi Santoso *)

 

Partisipasi masyarakat dalam menentukan pilihan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber dan jurdil), merupakan syarat mutlak bagi suksesnya pesta demokrasi. Peran pemegang kedaulatan tersebut menjadi jembatan terwujudnya pimpinan nasional yang kuat, berkualitas, dapat dipercaya serta mampu menjalankan fungsi tercapainya tujuan nasional. Mengapa?
Partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi sejatinya merupakan budaya di Indonesia yang sudah mengakar sejak era pergerakan sampai perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Begitu juga suksesi kepemimpinan nasional melalui proses yang dinamakan pemilu. Yang diselenggarakan lima tahun sekali.
Prinsip demokrasi menekankan partisipasi masyarakat, derajat kompetisi yang sehat, keterwakilan yang semakin kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Hanya saja, sejauh ini, keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pemerintah belum maksimal. Sementara, penekanan dalam demokrasi sangat dibutuhkan peran masyarakat untuk ikut serta dalam keputusan-keputusan politik. Sebab, masyarakat dapat mengusulkan aspirasinya di setiap tingkatan pemerintahan.
Sebagai referensi, selama ini, setiap menjelang penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan, hanya peserta pemilu dan calon saja yang perannya sangat menonjol. Sebagian kecil masyarakat berperan sebagai tim sukses atau simpatisan. Sebagian lagi menjadi pemantau atau surveyor. Sedang sebagian besar hanya ‘penikmat’ alias penonton proses demokrasi itu sendiri.
Data KPU RI menyebutkan, partisipasi pemilih pada Pemilu 2014 jumlahnya rata-rata 72 persen. Tidak jauh berbeda dengan tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2009. Sementara angka partisipasi nasional pada Pilpres 2014, lebih rendah dari angka partisipasi Pileg 2014. Yakni sekitar 69,58 persen. Angka partisipasi ini juga meleset dari target KPU sebesar 75 persen.
Oleh karena itu, perlu adanya upaya dari pemerintah maupun masyarakat dalam meningkatkan partisipasi pemilih untuk menghadapi pesta demokrasi serentak 17 April 2019 mendatang.
Upaya tersebut tentu dapat dilakukan. Salah satunya dengan menumbuhkan minat masyarakat akan pentingnya pemilu. Sebuah edukasi yang menanamkan nilai bahwa suara masyarakat sangat mempengaruhi kemajuan daerahnya.
Oleh karena itu pemerintah sebagai institusi harus berperan aktif dalam menyosialisasikan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemilu. Partisipasi masyarakat juga sangat menentukan keberlangsungan pemilu. Yaitu dengan meningkatkan hak pilih dalam pemilu.

Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda
Pendidikan politik merupakan salah satu upaya yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Paling tidak, masyarakat belajar memahami tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Konstitusi kita juga menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar 1945.
Selama ini, sebagian masyarakat beranggapan bahwa proses politik dengan segala pernik dan dinamikanya, bukan urusan mereka. Melainkan urusan pemerintah, partai politik peserta pemilu, dan para calonnya. Dalam benak masyarakat tersirat siapa pun yang menjadi pemenang dalam proses politik tidak berpengaruh atau berdampak terhadap kehidupan mereka. Karena itu, sebagian besar masyarakat masih cenderung pragmatis.
Dalam filosofi pendidikan, belajar merupakan sebuah proses panjang. Seumur hidup. Pendidikan, termasuk politik perlu dilaksanakan secara berkesinambungan agar masyarakat dapat memahami dunia politik. Terlebih, dunia politik sarat beragam masalah yang sangat kompleks dan dinamis. Tentunya, pendidikan politik bagi generasi muda sejak dini sangat penting.
Sebab, selama ini, muncul stigma negatif  yang berkembang terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan politik. Misalnya, politik dipahami sesuatu yang ‘kejam’, guna merebut suara pemilih. Politik juga identik dengan bagi-bagi uang, proyek dan janji-janji manis. Padahal, menurut  Aristoteles, politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Tentu saja, semua pihak harus terlibat dalam proses pendidikan politik. Baik partai politik, pemerintah dan masyarakat sendiri. Tidak hanya itu. Politik juga harus dimaknai sebagai investasi jangka panjang. Outputnya pembangunan perbaikan sesuai kondisi dan tuntutan zaman. Dalam konteks ini, generasi muda menjadi pilar utama untuk ikut berpartisipasi dalam membangun negeri ini. Terutama dalam hal suksesi pembangunan politik nasional yang dinamis dan berperikemanusiaan. (*)

 

*) Penulis adalah wartawan senior, tinggal di Pacitan

 

Berita ini telah dibaca 81 kali

Share :

Baca Juga

Sore Nanti Khofifah-Emil Dilantik Presiden, Langsung ke KPK
Di Surabaya, Jokowi Bicara Soal Hoax dan Jan Ethes Jika Dilaporkan ke Bawaslu
Pilgub Jatim, Survey Altara : Khofifah 48 %, Gus Ipul 41,9 %
Survei : Pro Jokowi Pilih Khofifah, Pro Prabowo Pilih Gus Ipul
Menunggu Kejutan Demokrat Siapa Capres – Cawapres Pilres 2019
Gaya Emil Saat Dapat Keluhan Pengusaha Warung Kopi
Ke Batu, Khofifah Dapat Dukungan Baru dari Bara JP
PDIP Resmi Usung Jokowi di Pilpres 2019